JOUNATAN, GUNTUR ALAM | TUMBAL


Judul Buku : Tumbal

Penulis : Jounatan, Guntur Alam

Penerbit : PT Elex Media Komputindo

Jumlah hlm : 184

Tanggal terbit : 2 September 2018

Blurb buku :

Apa benar arwah gadis hamil yang bunuh diri jadi arwah paling pendendam? Pertanyaan itu David lontarkan ke Jounatan setelah malam itu, saat mereka bertemu roh Pricil, siswi SMA yang bunuh diri dengan loncat dari jembatan. Ketika pertanyaan David belum terjawab, dan teka-teki kematian Pricil belum terurai, ternyata bahaya yang jauh lebih besar telah mengintai mereka. Dia yang bersemayam selama ratusan tahun kini mencari tumbal atas dendam masa lalu dengan mengendap di belakang Pricil. Jounatan pun tahu bahwa di antara mereka pasti akan ada yang mati. Namun tak ada jalan berbalik arah karena dendam harus dituntaskan.

So, Jounatan probably the most unlucky boy out there 😆 cause every where he goes this boy will be followed by a madness ghost seeking for revenge wkwkwk

Dibuku ke dua dari kolaborasi dua penulis ini aku berharap bakalan lebih seru dari buku pertama, but nope 😐 aku lebih suka buku pertamanya. Karena di buku pertama selain jumlah halamannya lebih banyak, menurutku buku pertama lebih dapat chemistry antar tokohnya, lebih kerasa feel horrornya. 

Masih seperti buku pertama, dibuku ke dua ini pun alur ceritanya super ngebut. Jadi sepanjang halaman tuh ya dikejar hantu terus pokoknya. Ada beberapa hal yang aku highlight di buku ini, diantaranya adalah :

1. Judul dari buku ini adalah Tumbal, menurut wikipedia tumbal merupakan makhluk hidup yang diserahkan sebagai persembahan untuk suatu keinginan tertentu. Yang paling familiar buatku sebagai orang jawa, biasanya tumbal ini untuk pesugihan. Namun kayaknya dibuku ini lebih ke sebagai ganti balas dendam kali ya. Hanya saja setahuku biasanya yang memberikan tumbal ini adalah orang yang masih hidup, sedangkan di buku ini tokoh-tokoh yang masih hidup tidak ada yang melakukan persembahan. Atau mungkin Tumbal punya makna dan aturan yang lebih luas ya, hmm mungkin aku saja yang kurang pengetahuan 😂

2. Tentang 'dunia yin' yang tanpa sengaja dibuka oleh Jou. Nah dibuku kedua ini ada di mention tentang dunia yin yang karena kejadian di buku pertama, Jou ini entah bagaimana membukanya. Masalahnya, aku yang awam tentang budaya dan kepercayaan tiongkok agak bingung. Ini dunia yin konsepnya seperti apa, jadilah aku bertanya pada si google tapi aku tidak menemukan penjelasan yang jelas tentang ini. Oleh karena itu, aku asumsikan saja dunia yin ini semacam dunia kegelapan, dunia arwah dan apapun yang berhubungan dengan kebalikan dari dunia manusia sesuai dengan simbol yin dan yang yang hitam putih itu.

3. Out of nowhere, saat Jou, David dan Tasya lagi mengunjungi Rumah Abu, mereka ini bertemu seseorang yang punya kemampuan meramal. Yang tiba-tiba aja ngomong ngaco tentang Jou yang membuka dunia yin dan Tasya yang diselimuti aura kematian. Kalau kalian pernah baca atau nonton series Percy Jackson, mungkin si seseorang ini tugasnya mirip oracle 😆. Sama halnya dengan satu adegan dimana mereka bertiga lagi berkunjung ke Rumah Kapitan dan diganggu si hantu, tiba-tiba aja Tasya ini masuk ke dalam lukisan wkwkwkw aku belum pernah nonton dan baca genre horror yang mana si hantu punya kekuatan magic seperti ini. Satu-satunya scene masuk dan hidup didalam lukisan ini yang kutahu ada di Harry Potter, dan Harry potter tuh genrenya fantasy.

4. Karakter Samuel yang seperti om-om jablay. Samuel diceritakan sebagai manusia umur 20.an dan seorang mahasiswa. Jadi aku tentu membayangkan, samuel ini tipe-tipe cowok keren yang berpendidikan karena setting waktu di novel ini udah jaman modern, Tapi dialog yang dia ucapkan dibawah ini membuatnya terlihat seperti om-om atau abang-abang kurang belaian yang norak.

"Halo, Manis,"

"Dih, sombong banget. Entar gak manis lagi loh."

"Ikut abang acara tahun baru, yuk. Kita hepi-hepi,"

"Ayolah, daripada bete tahun baru sendirian."

ceritanya si brengsek ini lagi godain cewek dipinggir jalan, like this scene ruined the image of cool college guys in my mind T.T

5. Karakter Jou yang terus denial sampai menjelang akhir buku. Hey boy, you kan udah pernah dapat terror dari hantu jahat seperti ini dibuku pertama. Jadi mbok ya berpikir cepat tanggap gitu loh, jelas-jelas lu tuh punya kemampuan jadi magnet buat makhluk-makhluk astral yang suka mau bunuhin manusia. Apa kamu ini gak belajar dari pengalaman di Diskotek Lipstik yang buat lu kehilangan dua sahabat. Seandainya nih bocah nggak denial dan mau mencari tahu dan berpikir lebih kritis, dia mungkin bisa mencegah tragedi yang membuat korban tidak bersalah di buku ini jadi tumbal kedua (moon maap agak emosi, soalnya greget aja wkwkw)

Nah begitulah pengalamanku selama baca novel ini 😂 entah ini bisa dikategorikan review atau tidak. Meskipun ada beberapa hal yang membuatku bertanya-tanya dan komplain, aku tetap suka gaya bercerita dua penulis ini yang lugas dan sederhana, tidak berbelit-belit. Aku bakalan otw baca buku ketiganya, semoga akan lebih seru dan lebih horror dan lebih baik dari buku kedua ini. See you in the next journey guyssss  


Posting Komentar

0 Komentar