Triskaidekaman | CADL: Sebuah Novel Tanpa Huruf E

 


Judul Buku : CADL; Sebuah Novel Tanpa Huruf E

Penulis        : Triskaidekaman

Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama

Terbit         : 14 Februari 2022

Jumlah Hlm : 298 Hlm

Blurb Buku : 

Jika kusisipkan Huruf Itu di antara huruf D dan huruf L, maka kita akan ingat pada orang-orang yang tak mampu lafalkan huruf R. Itu jugalah yang dialami warga Wiranacita. Namun, alih-alih huruf R, yang jadi tumbal adalah Huruf Itu. Lidah kami bukan lidah pilihan. Lidah rakyat sudah dilumpuhkan habis-habisan. Tak salah lagi: C-A-D-dan-L ini pastilah satu kata utuh. Ini bukan judul hasil cocok-cocokan atau akronim salasalan. Ini judul yang disiapkan baik-baik. ***

 Hidup rakyat Wiranacita kian rumit saat Huruf Itu dimusnahkan sang diktator, Zaliman Yang Mulia. Aturan bicara dibatasi, buku-buku mulai disortir, dan kamus harus diganti. Di balik larangan itu, ada rahasia suram dan kisah masa lalu yang ditutupi rapat-rapat. Saat satu-dua potongan rahasia itu muncul, Lamin hanya ikuti apa kata hatinya, Dia tak sadar akan ambang bahaya yang dia hadapi.



Waktu aku membaca paragraf pertama buku ini, rasa-ranya aku nggak pengen lanjutin baca buku ini karena narasinya lumayan butuh effort. Bukan tipe-tipe kalimat lugas yang mudah dipahami. Ke engganan ini diperburuk dengan ulasan orang-orang di goodreads wkwkwk aku agak takut orakku yang kapasitasnya minim ini tidak akan sanggup untuk mencerna, memahami dan menikmati ceritanya.

Tapiii, Heiii ! ini novel unik loooh. Novel lipogram, belum pernah baca yang model begini nih! lagian udah baca halaman awal kan, wajib banget lanjut sampai tamat dong (ceritanya sedang membrainwash diri sendiri hahaha). Dan ta da ! ternyata ceritanya se seru itu meskipun beberapa kali aku mesti gugel buat nyari arti dari kata-kata yang aku belum pernah tahu.

CADL merupakan novel dystopia yang membahas tentang kediktatoran pemerintahan Wiranacita. Pada masa kini, Wiranacita dipimpin oleh seorang diktator bernama Zaliman Yang Mulia. Pada masa pemerintahan Zaliman ini lah, kebijakan-kebijakan yang 'aneh' dan mungkin tidak begitu berguna bagi kesejahteraan hidup warga Wiranacita diberlakukan. Salah satunya adalah larangan penggunaan huruf 'itu'. Otomatis banyak nama warga Wiranacita harus berganti, nama-nama jalan harus diubah, merevisi ulang kamus besar dan pelarangan penggunaan huruf itu pada percakapan sehari-hari wiranacita. Selain itu, Zaliman juga melarang warganya untuk membaca, menyimpan, menerbitkan maupun menjual buku-buku 'miring' yang dia anggap dapat menggulingkan posisinya sebagai pemimpin nomor satu Wiranacita. Yang berada diurutan nomor satu dalam daftar buku paling dilarang adalah sebuah manuskrip puisi yang ditulis oleh seseorang yang misterius. Isinya merupakan sindiran kepada pemerintah. Menyimpannya saja bisa bikin nyawa melayang.

Pertanyaanya, kenapa sih Zaliman ini takut banget sama manuskrip ini. Itu kan cuma kumpulan puisi. Disinilah keseruannya :D aku jadi mengangguk dan memaklumi kenapa si Zaliman se effort itu buat musnahin ini manuskrip.

Cerita di novel ini mengambil sudut pandang orang kesatu dengan tokoh bernama Lamin dan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Untuk tokoh-tokonya sendiri, sungguh sangat mudah untuk dibenci dan membuatku kesal. Terutama tokoh bernama Babi, dia ini sangat babi sekali wkwkw

CADL mengingatkanku pada para pejabat di negri ini, yang sewaktu menjadi mahasiswa dulu begitu vokal, menggebu-gebu dan berapi-api dalam mengkritik pemerintahan pada zaman itu. Namun beberapa tahun kemudian menempati kursi-kursi pemerintahan yang sebelumnya begitu mereka benci :D dan mau tidak mau menjadi orang bermuka dua seperti kata Zaliman Yang Mulia hahaha. Setuju banget sin kalau ini dibilang novel satire, karena emang banyak sindiran terhadap pemerintahan di negri konoha kita tercinta ini.

"Inilah yang kutakutkan : pikiranku liar, tapi aksiku nol. Aku-juga para anak muda Wiranacita-adalah warga yang dididik hanya untuk jadi robot, jadi budaknya aristokrasi." - Hlm 189

"Pimpinan mana pun takkan bisa adil, Lamin. Coba bilang pada saya, siapa pimpinan di dunia ini yang adil? Ada?" - Hlm 259

Posting Komentar

0 Komentar